Title
Adat yang dijemput dengan tepak
ada yang dijemput bercincin terap
ada yang dijemput dengan destar
ada yang dijmput dengan surat
ada yang dijemput dengan pesan
yang jauh pesan berturut
yang dekat pesan berunut
ada yang dijemput bercincin terap
ada yang dijemput dengan destar
ada yang dijmput dengan surat
ada yang dijemput dengan pesan
yang jauh pesan berturut
yang dekat pesan berunut
Subject
Ungkapan
Creator
Tenas Effendy
Source
Ungkapan Tradisional Melayu-Riau (III)
Identifier
23073
Text
Terlepas cakap
Terdorong langkah
Pecah diperut, diam dimulut
Takut jarum patah
Kain tak berjahit
Karam ditempat tidur
Karam dihati
Bersimbah peluh
Takut sumbing jadi bela
Takut luak sepadi kepuk pecah
Takut ke hantu terpeluk ke bangkai
Takut ke harimau terduduk mulut buaya
Dimandikan orang
Mandi peluh
Mandi cakap
Bersimbah kain
Bersimbah cakap
Besar langsat kuala betung
lumut berlumut batang jerami
besarlah hajat yang dikandung
turut menjemput ke helat ini
InsyaAllah,
kalau tak ada rumput menjungkat
kalau tak ada batang melintang
kalau tak ada onak menjemba
kalau tak ada bumi bertingkah
kalau tak ada tiang terpalang
kalau tak ada dinding teretas
kalau tak ada lantai terjungkit
kalau tak ada atap terjurubai
Kalau tak ada salah silahnya
kalau tak ada cungkang sengketa
kalau tak ada gawal sangkaknya
kalau tak ada sumbang janggalnya
kalau tak ada terkejut tergempar
kalau tak ada aral melintang
Kalau rautan sudah lurus
kalau perahu sudah laju
Kami berhajat menyampaikan niat
yakni helat
beserta jamu
Helat diturut sepanjang adat
jamu diisi sepanjang pakai
Pada sirih nan secarik
pada pinang nan setomi
ada adat dengan adabnya
untuk membuka perbualan
untuk pelemak-lemak cakap
untuk penyedap-nyedap hati
untuk penyenang-nyenang pikiran
untuk pelapang-lapang dada
untuk mengisi waktu terbuang
Supaya duduk tidak kemak
supaya tegak tidak lasak
Sirih sudah sama dicarik
pinang sudah sama ditomi
duduk sudah bersanding lutut
tegak sudah bersanding bahu
Tang dinanti sudah tiba
yang ditunggu sudah sampai
yang dijemput sudah datang
yang dicita sudag bersua
Bertanam sirih di penarik
bertanam pisang di jerami
Laga barlaga anak segati
di dalam sirih nan secarik
di dalam pinang nan setomi
Ada juga kehendak hati
Kini berbalik kita kemari
tepak berisi kami sediakan
cukup dengan sirih pinangnya
cukup dengan kapur gambirnya
cukup tembakau dengan daunnya
Santaplah sirih pinang kami
tanda sesuku kita seasal
tanda senenek kita semoyang
tanda bersanak kita berkaum
tanda seadat dan selembaga
tanda seico dan sepakaian
tanda bersambung hendak panjang
tanda bertampun hendak lebar
tanda bertali tak kan putus
tanda bertampuk tak kan patah
tanda berpucuk tak kan layu
tanda seaib dengan semalu
tanda sempit sama berhimpit
tand alapang sama berlegar
tanda ke laut sama terendam
tanda ke darat sama berimba
tanda senasib sepenanggungan
tanda untung sama berlaba
tanda rugi sama kehilangan
Tanda suci di dalam hati
tanda bersih dikira-kira
Tenang bagai air di tasik
bagai bantal dalam kelambu
bagai terkunci di peti bergewang
bagai berkurung di bilik dalam
bagai budak dalam pangkuan
Supaya selamat kita semua
selamat segala yang tinggal
selamat segala yang pergi
Hilang bimbang dengan risaunya
hilang was-was dengan cemasnya
hilang kilan dengan keluhnya
hilang sangkak dengan gawalnya
Supaya tak ada rumput menjungkat
supaya tak ada batang melintang
supaya tak ada ombak menjemba
supaya tak ada tiang terpalang
supaya tak ada dinding terentas
supaya tak ada atap terjurai
supaya tak ada bumi bertingkah
supaya hilang segala bimbnag
supaya duduk dapat bertenang
Entah kami tersalah jemput
entah kami tersalah turut
entah kami tersalah unut
entah kami tersalah sambut
entah kami tersalah sapa
entah kami tersalah tergur
entah kami tersalah cakap
entah kami tersalah adab
entah kami tersalah duduk
entah kami tersalah letak
entah kami tersalah tegak
entah kami tersalah susun
entah kami tersalah pandang
entah kami tersalah dengar
entah kami tersalah sebut
entah kami tersalah tingkah
entah kami tersalah kain
entah kami tersalah pasang
entah kami tersalah pakai
entah kami tersalah tepak
entah kami tersalah hidang
Yang salah menjadi hutang kami
yang buruk menjadi beban kami
yang sumbang menjadi tanggungan kami
Besar langsat di tepi busut
Besar tak muat dalam pati
Besar hajat kami menjemput
besar terniat di dalam hati
Sudah lama langsatnya condong
Barulah kini kami hampaikan
Sudah lama niat dikandung
Barulah kini kami sampaikan
Becakap tak sudah sepatah
Berjalan tak cukup selangkah
meminta tak ada sudahnya
Kami mohon bercakap sekali lagi
ada yang terkilan dalam hati
Bak diri di dalam daging
yang terasa-rasa jua
Kami tahu memberatkan saja,
Sebab ada di antara encik-encik
juga di antara puan-puan
begitu pula tuan-tuan
yang datang dengan (dalam) bimbang
Entah bimbang meninggalkan rumhanya
entah bimbang meninggalkan ladangnya
entah bimbang meninggalkan anak isterinya
entah bimbang meninggalkan saudara maranya
entah bimbang meninggalkan itik ayamnya
entah bimbang meninggalkan kerbau kambingnya
entah bimbang meninggalkan dusun lamannya
entah bimbang meninggalkan tebang tebasnya
entah bimbang meninggalkan lukah tengkalaknya
entah bimbang meninggalkan jemurannya
entah bimbang meninggalkan para salainya
entah bimbang meninggalkan puyuh balamnya
entah bimbang meninggalkan serindit pikatannya
entah bimbang meninggalkan tebu pisangnya
entah bimbang kemarau panjang
entah bimbang kan sakit pening
entah bimbang terkejut tergempar
entah bimbang bertempat-tempat
entah bimbang berkepanjangan
Maka kami mohon dimaafkan
mohon diberi ampun
Dalam pada itu
kami tadahkan tangan kami
kami hadapkan hati kami
mohon kepada Allah Yang Esa
Supaya tak ada angin berpusu
supaya tak ada api menjulat
supaya tak ada puntung nan marak
supaya tak ada kemarau panjang
supaya tak ada hujan bermusim
Supaya berkuku tak mengoyak lukah
supaya musang tak mengoyak kandang
supaya harimau tak menggila
supaya menjauh silang sengketa
supaya menjauh penyakit wabah
Kabar sudah bendang ke langit
berita sudah merebak ke bumi
siar sudah sampai ke laut
bunyi sudah tiba di gunung
Iyang-iyang sudah mengiang
isik-isik sudah berbunyi
yang dibawa angin lalu
yang digonggong burung terbang
yang didengar dagang lewat
Adat yang dijemput dengan tepak
ada yang dijemput bercincin terap
ada yang dijemput dengan destar
ada yang dijmput dengan surat
ada yang dijemput dengan pesan
yang jauh pesan berturut
yang dekat pesan berunut
Jemput bukan berbasa-basi
jemput kami jemput terbawa
jemput kami jemput berturut
jemput kami jemput berunut
Diturut dengan adat pusaka
diunut dengan ico pakaian
Diturut sepanjang syarak
diunut sepanjang lembaga
diturut alur dengan patutnya
diturut adab dengan santunnya
diunut dengan susur galurnya
diunut dengan suku sakatnya
Kini,
berhimpun pepat kita di sini
yang dijemput sudah tiba
yang diturut sudah datang
yang diunut sudah sedia
Kami sambut dengan muka jernih
kami terima dengan hati suci
kami nanti dengan dada lapang
kami tunggu dengan rasa senang
Kayu di rimba banyak macamnya,
ikan di laut banyak ragamnya
burung di awan banyak lakunya
manusia di bumi banyak perangainya
Di dalam lurus ada bengkoknya
di dalam jernih ada keruhnya
di dalam usai ada kusutnya
di dalam baik ada buruknya
di dalam manis ada pahitnya
di dalam benar ada salahnya
Banyak pula lalai lengahnya,
banyak pula lupa khilafnya
banyak pula salah silihnya
banyak pula bodoh bebalnya
banyak pula kasar langgarnya
Yang tua tidak dituakan,
yang patut tidak dipatutkan
yang dahulu dikemudiankan
yang sepadan tidak dipadankan
yang sealur ditelingkaikan
yang seukur dijauhkan
yang sejudu tidak dijudukan
yang sesukat tidak disamakan
yang setimbang tidak diimbang
Kami mohon beribu ampun
dari jauh mengangkat tangan
dari dekat mengangkat sembah
disusun jari nan sepuluh
ditundukkan kepala nan satu
mohon maaf beserta ampun
dari ujung kaki ke ujung rambut
yang dari darat dari laut
yang dari hulu dari hilir
yang dari bukit datang menurun
yang dari lurah datang mendaki
yang lama tundan bertundam
yang cepat sogo bersogo
yang tersungkup oleh adat
yang ternaung oleh lembaga
yang terkungkung oleh syarak
yang terlindung oleh ico dengan pakaian
yang disebut anak sidang manusia
yang terlata-lata di bumi
yang terkapai-kapai di laut
yang di bawah sungkup langit
yang kecil tidak disebut nama
yang besar tidak diimbau gelar
Assalamualaikum w.w
yang raja dengan daulatnya
yang datuk dengan kuasanya
yang penghulu dengan hulunya
yang alim berkitabullah
yang dubalang kuat kuasa
yang nenek mamak dengan adatnya
yang cerdik dengan pandainya
yang bijak dengan arifnya
yang anak betina dengan betinanya
yang anak jantan sama jantannya
yang orang semenda sama semendanya
Yang tua datang berpapah
yang tua datang berpimpin
yang lumpuh datang berdukung
yang budak kecil datang bergendong
yang patut pada patutnya
yang jauh berjalan lama
yang dekat berjalan cepat
apa tanda Melayu beradat,
Sambutlah sembah salam kami
membela yang hak tahan dikerat
sambutlah hajat dan niat kami
sembah salam mohon ampun
hajat lepas hutang terbayar
niat sampai beban diletak
ucap kabul pinta pun boleh
apa tanda Melayu beradat,
Supaya disempit kita berlapang
berani memikul sebab akibat
supaya disesak kita bersenang
apa tanda Melayu beradat,
Yang adat sama dijunjung
beraninya sampai ke liang lahat
yang syarak sama disanjung
yang lembaga sama dijaga
yang adab sama dikakap
apa tanda Melayu beradat,
Dalam sesak berdesak-desak
berani bercakap berani berbuat
senang dimana kan adanya
apa tanda Melayu handal,
Berhimpun pepat kita di sini
membela yang hak tahan dipenggal
dalam sempit himpit berhimpit
lapang dimana kan adanya
apa tanda Melayu senonoh,
Itulah sebabnya
pantang bercawat mengelak musuh
makan pada hari ini
bulan dan ketika ini
helat kami langsungkan
niat kami lahirkan
jamuan kami adakan
apa tanda Melayu terpandang,
Duduk salah tegak tak sedap
berani memikul beban dan hutang
dibawa berguling terasa-rasa
dibawa berjalan terbayang-bayang
apa tanda Melayu terpandang,
Bila berjalan langkah berat
pantang sekali berbalik ke belakang
bila berlayar perahu tersakat
bila melenggang terasa sumbang
bila bertandang terasa gamang
apa tanda Melayu berani,
yang hutang tak terbayar
daripada aib biarlah mati
yang beban tak terlepaskan
yang cakap tak terucapkan
apa tanda Melayu berani,
Lama-lama jadi penyakit
mengelakkan musuh pantang sekali
bak duri di dalam daging
kan terasa-rasa juga
siang terngiang-ngiang
malam terbayang-bayang
apa tanda Melayu berani,
Di simpai dengan doa selamat
hatinya tidak berbelah bagi
apa tanda Melayu berani,
Kalau hajat tak disampaikan
musuh datang ia menanti
kalau niat tak dilahirkan
kalau maksud tak disebutkan
kalau agak tak dinampakkan
apa tanda Melayu bermarwah,
Dikungkung syarak dengan kitabnya
membela yang patut pantang menyerah
dikungkung ico dengan pakaian
dikungkung adat dengan lembaga
Terdorong langkah
Pecah diperut, diam dimulut
Takut jarum patah
Kain tak berjahit
Karam ditempat tidur
Karam dihati
Bersimbah peluh
Takut sumbing jadi bela
Takut luak sepadi kepuk pecah
Takut ke hantu terpeluk ke bangkai
Takut ke harimau terduduk mulut buaya
Dimandikan orang
Mandi peluh
Mandi cakap
Bersimbah kain
Bersimbah cakap
Besar langsat kuala betung
lumut berlumut batang jerami
besarlah hajat yang dikandung
turut menjemput ke helat ini
InsyaAllah,
kalau tak ada rumput menjungkat
kalau tak ada batang melintang
kalau tak ada onak menjemba
kalau tak ada bumi bertingkah
kalau tak ada tiang terpalang
kalau tak ada dinding teretas
kalau tak ada lantai terjungkit
kalau tak ada atap terjurubai
Kalau tak ada salah silahnya
kalau tak ada cungkang sengketa
kalau tak ada gawal sangkaknya
kalau tak ada sumbang janggalnya
kalau tak ada terkejut tergempar
kalau tak ada aral melintang
Kalau rautan sudah lurus
kalau perahu sudah laju
Kami berhajat menyampaikan niat
yakni helat
beserta jamu
Helat diturut sepanjang adat
jamu diisi sepanjang pakai
Pada sirih nan secarik
pada pinang nan setomi
ada adat dengan adabnya
untuk membuka perbualan
untuk pelemak-lemak cakap
untuk penyedap-nyedap hati
untuk penyenang-nyenang pikiran
untuk pelapang-lapang dada
untuk mengisi waktu terbuang
Supaya duduk tidak kemak
supaya tegak tidak lasak
Sirih sudah sama dicarik
pinang sudah sama ditomi
duduk sudah bersanding lutut
tegak sudah bersanding bahu
Tang dinanti sudah tiba
yang ditunggu sudah sampai
yang dijemput sudah datang
yang dicita sudag bersua
Bertanam sirih di penarik
bertanam pisang di jerami
Laga barlaga anak segati
di dalam sirih nan secarik
di dalam pinang nan setomi
Ada juga kehendak hati
Kini berbalik kita kemari
tepak berisi kami sediakan
cukup dengan sirih pinangnya
cukup dengan kapur gambirnya
cukup tembakau dengan daunnya
Santaplah sirih pinang kami
tanda sesuku kita seasal
tanda senenek kita semoyang
tanda bersanak kita berkaum
tanda seadat dan selembaga
tanda seico dan sepakaian
tanda bersambung hendak panjang
tanda bertampun hendak lebar
tanda bertali tak kan putus
tanda bertampuk tak kan patah
tanda berpucuk tak kan layu
tanda seaib dengan semalu
tanda sempit sama berhimpit
tand alapang sama berlegar
tanda ke laut sama terendam
tanda ke darat sama berimba
tanda senasib sepenanggungan
tanda untung sama berlaba
tanda rugi sama kehilangan
Tanda suci di dalam hati
tanda bersih dikira-kira
Tenang bagai air di tasik
bagai bantal dalam kelambu
bagai terkunci di peti bergewang
bagai berkurung di bilik dalam
bagai budak dalam pangkuan
Supaya selamat kita semua
selamat segala yang tinggal
selamat segala yang pergi
Hilang bimbang dengan risaunya
hilang was-was dengan cemasnya
hilang kilan dengan keluhnya
hilang sangkak dengan gawalnya
Supaya tak ada rumput menjungkat
supaya tak ada batang melintang
supaya tak ada ombak menjemba
supaya tak ada tiang terpalang
supaya tak ada dinding terentas
supaya tak ada atap terjurai
supaya tak ada bumi bertingkah
supaya hilang segala bimbnag
supaya duduk dapat bertenang
Entah kami tersalah jemput
entah kami tersalah turut
entah kami tersalah unut
entah kami tersalah sambut
entah kami tersalah sapa
entah kami tersalah tergur
entah kami tersalah cakap
entah kami tersalah adab
entah kami tersalah duduk
entah kami tersalah letak
entah kami tersalah tegak
entah kami tersalah susun
entah kami tersalah pandang
entah kami tersalah dengar
entah kami tersalah sebut
entah kami tersalah tingkah
entah kami tersalah kain
entah kami tersalah pasang
entah kami tersalah pakai
entah kami tersalah tepak
entah kami tersalah hidang
Yang salah menjadi hutang kami
yang buruk menjadi beban kami
yang sumbang menjadi tanggungan kami
Besar langsat di tepi busut
Besar tak muat dalam pati
Besar hajat kami menjemput
besar terniat di dalam hati
Sudah lama langsatnya condong
Barulah kini kami hampaikan
Sudah lama niat dikandung
Barulah kini kami sampaikan
Becakap tak sudah sepatah
Berjalan tak cukup selangkah
meminta tak ada sudahnya
Kami mohon bercakap sekali lagi
ada yang terkilan dalam hati
Bak diri di dalam daging
yang terasa-rasa jua
Kami tahu memberatkan saja,
Sebab ada di antara encik-encik
juga di antara puan-puan
begitu pula tuan-tuan
yang datang dengan (dalam) bimbang
Entah bimbang meninggalkan rumhanya
entah bimbang meninggalkan ladangnya
entah bimbang meninggalkan anak isterinya
entah bimbang meninggalkan saudara maranya
entah bimbang meninggalkan itik ayamnya
entah bimbang meninggalkan kerbau kambingnya
entah bimbang meninggalkan dusun lamannya
entah bimbang meninggalkan tebang tebasnya
entah bimbang meninggalkan lukah tengkalaknya
entah bimbang meninggalkan jemurannya
entah bimbang meninggalkan para salainya
entah bimbang meninggalkan puyuh balamnya
entah bimbang meninggalkan serindit pikatannya
entah bimbang meninggalkan tebu pisangnya
entah bimbang kemarau panjang
entah bimbang kan sakit pening
entah bimbang terkejut tergempar
entah bimbang bertempat-tempat
entah bimbang berkepanjangan
Maka kami mohon dimaafkan
mohon diberi ampun
Dalam pada itu
kami tadahkan tangan kami
kami hadapkan hati kami
mohon kepada Allah Yang Esa
Supaya tak ada angin berpusu
supaya tak ada api menjulat
supaya tak ada puntung nan marak
supaya tak ada kemarau panjang
supaya tak ada hujan bermusim
Supaya berkuku tak mengoyak lukah
supaya musang tak mengoyak kandang
supaya harimau tak menggila
supaya menjauh silang sengketa
supaya menjauh penyakit wabah
Kabar sudah bendang ke langit
berita sudah merebak ke bumi
siar sudah sampai ke laut
bunyi sudah tiba di gunung
Iyang-iyang sudah mengiang
isik-isik sudah berbunyi
yang dibawa angin lalu
yang digonggong burung terbang
yang didengar dagang lewat
Adat yang dijemput dengan tepak
ada yang dijemput bercincin terap
ada yang dijemput dengan destar
ada yang dijmput dengan surat
ada yang dijemput dengan pesan
yang jauh pesan berturut
yang dekat pesan berunut
Jemput bukan berbasa-basi
jemput kami jemput terbawa
jemput kami jemput berturut
jemput kami jemput berunut
Diturut dengan adat pusaka
diunut dengan ico pakaian
Diturut sepanjang syarak
diunut sepanjang lembaga
diturut alur dengan patutnya
diturut adab dengan santunnya
diunut dengan susur galurnya
diunut dengan suku sakatnya
Kini,
berhimpun pepat kita di sini
yang dijemput sudah tiba
yang diturut sudah datang
yang diunut sudah sedia
Kami sambut dengan muka jernih
kami terima dengan hati suci
kami nanti dengan dada lapang
kami tunggu dengan rasa senang
Kayu di rimba banyak macamnya,
ikan di laut banyak ragamnya
burung di awan banyak lakunya
manusia di bumi banyak perangainya
Di dalam lurus ada bengkoknya
di dalam jernih ada keruhnya
di dalam usai ada kusutnya
di dalam baik ada buruknya
di dalam manis ada pahitnya
di dalam benar ada salahnya
Banyak pula lalai lengahnya,
banyak pula lupa khilafnya
banyak pula salah silihnya
banyak pula bodoh bebalnya
banyak pula kasar langgarnya
Yang tua tidak dituakan,
yang patut tidak dipatutkan
yang dahulu dikemudiankan
yang sepadan tidak dipadankan
yang sealur ditelingkaikan
yang seukur dijauhkan
yang sejudu tidak dijudukan
yang sesukat tidak disamakan
yang setimbang tidak diimbang
Kami mohon beribu ampun
dari jauh mengangkat tangan
dari dekat mengangkat sembah
disusun jari nan sepuluh
ditundukkan kepala nan satu
mohon maaf beserta ampun
dari ujung kaki ke ujung rambut
yang dari darat dari laut
yang dari hulu dari hilir
yang dari bukit datang menurun
yang dari lurah datang mendaki
yang lama tundan bertundam
yang cepat sogo bersogo
yang tersungkup oleh adat
yang ternaung oleh lembaga
yang terkungkung oleh syarak
yang terlindung oleh ico dengan pakaian
yang disebut anak sidang manusia
yang terlata-lata di bumi
yang terkapai-kapai di laut
yang di bawah sungkup langit
yang kecil tidak disebut nama
yang besar tidak diimbau gelar
Assalamualaikum w.w
yang raja dengan daulatnya
yang datuk dengan kuasanya
yang penghulu dengan hulunya
yang alim berkitabullah
yang dubalang kuat kuasa
yang nenek mamak dengan adatnya
yang cerdik dengan pandainya
yang bijak dengan arifnya
yang anak betina dengan betinanya
yang anak jantan sama jantannya
yang orang semenda sama semendanya
Yang tua datang berpapah
yang tua datang berpimpin
yang lumpuh datang berdukung
yang budak kecil datang bergendong
yang patut pada patutnya
yang jauh berjalan lama
yang dekat berjalan cepat
apa tanda Melayu beradat,
Sambutlah sembah salam kami
membela yang hak tahan dikerat
sambutlah hajat dan niat kami
sembah salam mohon ampun
hajat lepas hutang terbayar
niat sampai beban diletak
ucap kabul pinta pun boleh
apa tanda Melayu beradat,
Supaya disempit kita berlapang
berani memikul sebab akibat
supaya disesak kita bersenang
apa tanda Melayu beradat,
Yang adat sama dijunjung
beraninya sampai ke liang lahat
yang syarak sama disanjung
yang lembaga sama dijaga
yang adab sama dikakap
apa tanda Melayu beradat,
Dalam sesak berdesak-desak
berani bercakap berani berbuat
senang dimana kan adanya
apa tanda Melayu handal,
Berhimpun pepat kita di sini
membela yang hak tahan dipenggal
dalam sempit himpit berhimpit
lapang dimana kan adanya
apa tanda Melayu senonoh,
Itulah sebabnya
pantang bercawat mengelak musuh
makan pada hari ini
bulan dan ketika ini
helat kami langsungkan
niat kami lahirkan
jamuan kami adakan
apa tanda Melayu terpandang,
Duduk salah tegak tak sedap
berani memikul beban dan hutang
dibawa berguling terasa-rasa
dibawa berjalan terbayang-bayang
apa tanda Melayu terpandang,
Bila berjalan langkah berat
pantang sekali berbalik ke belakang
bila berlayar perahu tersakat
bila melenggang terasa sumbang
bila bertandang terasa gamang
apa tanda Melayu berani,
yang hutang tak terbayar
daripada aib biarlah mati
yang beban tak terlepaskan
yang cakap tak terucapkan
apa tanda Melayu berani,
Lama-lama jadi penyakit
mengelakkan musuh pantang sekali
bak duri di dalam daging
kan terasa-rasa juga
siang terngiang-ngiang
malam terbayang-bayang
apa tanda Melayu berani,
Di simpai dengan doa selamat
hatinya tidak berbelah bagi
apa tanda Melayu berani,
Kalau hajat tak disampaikan
musuh datang ia menanti
kalau niat tak dilahirkan
kalau maksud tak disebutkan
kalau agak tak dinampakkan
apa tanda Melayu bermarwah,
Dikungkung syarak dengan kitabnya
membela yang patut pantang menyerah
dikungkung ico dengan pakaian
dikungkung adat dengan lembaga
