Adu beradu periuk belangan
Lekar terguling di bawah tingkap
Tersedu-sedu beruk di rimba
Mendengar kambing membaca kitab

Title

Adu beradu periuk belangan
Lekar terguling di bawah tingkap
Tersedu-sedu beruk di rimba
Mendengar kambing membaca kitab

Subject

Pantun

Creator

Tenas Effendy

Source

Kelakar Dalam Pantun Melayu

Identifier

6446

Text

Menengok kera dipeluk anjing
Banyaklah kijang berjalan turun
Menengok orang tua duduk bersanding
Banyaklah bujang meminum racun

Pucuk manggis batang belimbing
Buah ara di tengah paya
Duduk menangis si orang sumbing
Dia marah disangka tertawa

Tajuk bertajuk batangnya dedap
Buah kelakap tangkainya pendek
Duduk merajuk si orang gagap
Dia bercakap disangka mengejek

Pucuk manggis batang mengkudu
Berbuah bayam daunnya merah
Duduk menangis si orang bisu
Dia diam disangka marah

Patah kemudi pasang pelita
Air dalam tiada berlumpur
Patahlah hati si orang buta
Dia nan diam di sangka tidur

Rebahlah padi ditendang burung
Pelanduk menderap lari bertiga
Hibalah hati si orang ompong
Lauknya sedap gigi tak ada

Sesaplah ladang berilah tanda
Semaknya dapat dibuat suluh
Sedaplah orang berbinikan janda
Anaknya dapat disuruh-suruh

Pisau belati bertali lurus
Buat penjaga bahaya datang
Risaulah hati berbini kurus
Penat meraba teraba tulang

Pisau belati bertali pandak
Dititik-titik matanya hancur
Risaulah hati berbini pekak
Awak berbisik dia tertidur

Berbuah kuini masak setangkai
Berbuah terung tampuknya gugur
Selama berbini bijak dan pandai
Laki berkurung di sudut dapur

Adu beradu periuk belangan
Lekar terguling di bawah tingkap
Tersedu-sedu beruk di rimba
Mendengar kambing membaca kitab

Terung panjang dibuat gulai
Masak di periuk beri berkuah
Terlolong panjang wak lebai
Mendengar beruk memberi petuah

Pohon umbutnya manis
Pohon meranti berdaun muda
Rabunlah mata duduk menangis
Mendengar laki bermain muda

Selama banyak buah kedondong
Banyak belimbing terjela-jela
Selama banyak janda di kampung
Banyaklah kambing tergila-gila

Banyaklah manggis tidak berisi
karena macang berbiji muda
Banyaklah gadis tidak berlaki
Karena bujang mencari janda

Sejak pelatuk berbini serindit
Banyak keluang tergapai-gapai
Sejak beruk menjadi joget
Banyaklah orang bercerai berai

Sejak belimbing bersimpai rotan
Banyaklah pinang dipalut duri
Sejak wak kambing memakai sorban
Banyaklah orang menyemput kenduri

Maksud hati memindang belanak
Belanak tak dapat hiu pun jadi
Maksud di hati meminang anak
Anak tak dapat ibu pun jadi

Sudah penat merendang kandis
Kandis dikerat buah beralih
Sudah penat meminang gadis
Gadis tak dapat janda pun boleh

Selama tumang tidak menyala
Banyak periuk tidak diangkat
Selama siamang tidak menjala
Banyaklah beruk turun memukat

Maksud hati menebang saja
Disuruh pepat apatah lagi
Maksud hati memandang saja
Disuruh dekat apatah lagi

Sejak tungau berbini tuma
Banyaklah angsa menimang taji
Sejak harimau menjadi ulama
Banyaklah rusa datang mengaji

Selama genta bertali baja
Genta dituang menjadi talam
Selama si buta menjadi raja
Pelita dipasang siang malam

Sejak periuk berisi tulang
Habislah arang untuk pebara
Sejak beruk jadi hulubalang
Habislah orang masuk panjara

Selama limau bersimpai rotan
Habislah macang dimakan tupai
Selama harimau menjadi sultan
Habislah orang memakan bangkai

Sejak lembing bertangkai rotan
banyak parang dipatahkannya
Sejak kambing memakai sorban
Banyak orang dinikahkannya

Parang putih pendek sejari
Pasak dipasak sarungnya longgar
Orang bunting asik menari
Budak terkuak orang tak sadar

Pucuk keladi terkuit-kuit
Rendam sedikit jadi mayang
Menengok haji menari joget
Imam Katib bermain wayang

Tembuk labu di balik peti
Daun cabai dipatuk balam
Menengok Penghulu asik berjudi
Turun wak lebai menyabung ayam

Pucuk bayam sipucuk kangkung
Batang keladi dibalik kandang
Menengok imam duduk mencangkung
Orang mengaji golek gelantang

Ulat bulu di tepi batang
Anak beruang mandi bertimba
Melihat penghulu mandi telanjang
Banyaklah orang lari ke rimba

Lebat padi di tepi kolam
Anak tupai ditimpa mangga
Melihat kadi mencuri ayam
Uak lebai lupakan doa

Mengerat tebu dengan senjata
Onak mengait ketiak koyak
Melihat wak guru bermain mata
Anak muridnya mengayak berak

Sejak belut menjadi tempala
Banyaklah unta menjadi tenuk
Sejak si untut bermain bola
Banyak si buta datang menengok

Selama tempua berbini landak
Banyaklah udang berhati risau
Selama orang tua berbini budak
Banyaklah bujang pergi merantau

Sejak terlanda ke kaki kijang
Banyaklah kandis gugur malam
Sejak janda berlakikan bujang
Banyaklah gadis tak tidur malam

Karena dapat tali berenda
Tidak perlu ke pasar lagi
Karena mendapat bini janda
Tidak perlu belajar lagi

Selama tembuk lantai kolek
Habislah tiris tiang-tiangnya
Selama beruk pandai bersolek
Habislah gadis dipinangnya

Selama memasang lantai perahu
Banyaklah ketam lata melata
Selama musang pandai merayu
Banyaklah ayam nan jatuh cinta

Selama pasu berantaikan tali
Banyaklah gelang berjela-jela
Selama si bisu pandai merayu
Banyaklah orang tergila-gila

Mendengar jeruk jatuh berdebab
Banyak belalang pergi berbaris
Mendengar beruk bermain rebab
Banyaklah orang duduk menangis

Sejak limau jadi kedondong
Banyak puding dimakan ulat
Sejak harimau giginya ompong
Banyak kambing melawan bersilat

Sejak kelalang jadi balang
Pupuslah talam dilendannya
Sejak belalang jadi elang
Pupuslah ayam dimakannya

Sejak tangguk bersimpai batang
Banyaklah udang masuk ke lubang
Sejak sang beruk memakai kutang
Banyaklah orang mabuk kepayang

Tumbuhlah lada ditepi lebuh
Kalau dimakan pedas kerongkong
Sungguhlah manja berbini lumpuh
Kemana berjalan minta didukung

Buluh betung di tepi pondok
Terbakar pohon tidak kan hangus
Sungguh beruntung berbini gemuk
lapar setahun tidakkan kurus

Betung tumbuh di tepi gubuk
Akarnya banyak bagai disulam
Beruntung sungguh berbini gemuk
Tidur pun nyenyak bagai di tilam

Eloknya menebang kayu resak
Kayu ditebang dengan gergaji
Eloklah orang berlaki pekak
Diumpat orang disangka memuji

Kijang berjalan terlunta-lunta
Tupai kencing di pintu sarang
Bujang berkawan dengan si dara
Bagai kucing menunggu panggang

Tupai kencing di pintu sarang
Bibir melepuh dibawa menyigai
Bagai kucing menunggu panggang
Liurnya jatuh menganak sungai

Bibir melepuh dibawa menyingai
Kera mengail diujung dahan
Liur jatuh menganak sungai
Mata terbendil sebesar lengan

Parang putus menetak batu
Campak parang tinggalah puting
Orang nan kurus membuka baju
Nampak tulangnya dikejar anjing

Sejak orang pergi menebas
Pebara tidak berapi lagi
Sejak terpasang gigi emas
Tertawa tidak berhenti lagi

Selama tidak berperigi lagi
Punai merbah meninggi hari
Selama tidak bergigi lagi
Petai dikunyah pandai menari

Sejak mendapat kuini muda
Tidak berbau buah mempelam
Sejak mendapat bini nan muda
Tak mau lagi keluar malam

Selama mendapat pari di lubuk
Tidak berguna ayam di rumah
Selama mendapat bini nan gemuk
Tidak berguna tilam di rumah

Hilir berderap mudik berderap
Patahlah galah haluan perahu
Bini berkurap laki berkurap
Setiap malam duduk bergaru

Burung puyuh berkaki pendek
Cepat menaruk buahnya lada
Beruntung sungguh berlaki pendek
Dapat menyuruk di celah dada